Kawula17 Goes to School Ajak Pelajar Makassar Bedah Krisis Lingkungan Melalui Metode Design Thinking
Makassar, 9 Juni 2026 – Menjawab tantangan rendahnya kemampuan berpikir kritis pelajar sekaligus mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas (PP17) menyelenggarakan Kawula17 Goes to School (KGTS) 2026 di Kota Makassar. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program yang menjangkau 17 wilayah di Indonesia sepanjang 2026.
Lokakarya luring intensif ini diikuti oleh pelajar SMA/SMK sederajat dari berbagai sekolah di Makassar, termasuk beberapa anggota Forum OSIS Makassar yang turut ambil bagian sebagai peserta aktif. Keterlibatan mereka diharapkan memperluas jangkauan dampak program ke jejaring OSIS di sekolah masing-masing, sehingga semangat berpikir kritis dan kepedulian lingkungan dapat menyebar lebih luas di kalangan pelajar kota.
Dalam pelaksanaannya di Makassar, PP17 turut menggandeng Satya Bumi sebagai narasumber utama untuk membantu menjelaskan pemahaman dan persoalan terkait lingkungan, sebagai organisasi yang memang bergerak di isu lingkungan dan memiliki salah satu fokus daerah di Sulawesi terkait kerusakan lingkungan akibat tambang nikel di Pulau Kabaena. Selain itu, PP17 juga mengajak berbagai komunitas lokal seperti Blue Forest, Walhi Sulsel, Lapor Iklim, Green Youth Celebes yang selama ini fokus pada isu lingkungan hidup, yang selama ini fokus pada isu lingkungan hidup. Kolaborasi ini menghadirkan perspektif lapangan yang nyata bagi peserta, sekaligus membuka ruang belajar langsung dari praktisi yang bergerak di isu lingkungan sehari-hari.
Melalui pendekatan Design Thinking, peserta diajak mengidentifikasi akar masalah lingkungan di Makassar menggunakan metode 5 Whys, memetakan pemangku kepentingan, hingga merumuskan solusi dengan kerangka How Might We. Pada tahap definisi masalah, peserta juga difasilitasi untuk memetakan hak dan kewajiban mereka sebagai pelajar sekaligus masyarakat sipil dalam isu lingkungan mulai dari hak atas lingkungan yang sehat hingga kewajiban menjaga ruang hidup bersama. Pemetaan ini menjadi pijakan bagi peserta untuk menyusun sikap dan rekomendasi aksi yang lebih bertanggung jawab.
Hendra, Research Fellow Kawula17 sekaligus PIC program Kawula Goes to School 17, menjelaskan bahwa program ini secara khusus dirancang untuk melatih nalar kritis pelajar SMA/SMK melalui isu lingkungan yang dekat dengan keseharian mereka di Makassar. Menurutnya, isu lingkungan sengaja dipakai sebagai media latihan berpikir kritis dan berpikir runtut, sekaligus menumbuhkan kepedulian peserta terhadap kondisi lingkungan yang dialami langsung oleh mereka maupun masyarakat sekitar. Ia berharap peserta dapat menjadi pemantik kesadaran lingkungan bagi keluarga dan komunitasnya, sekaligus berharap aspirasi dan ide yang dihasilkan dalam lokakarya bisa diserap oleh pemerintah sebagai representasi pandangan anak muda Makassar terhadap persoalan lingkungan di kotanya.
Program ini juga selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka Kemendikbudristek, khususnya penguatan dimensi Profil Pelajar Pancasila seperti bernalar kritis, mandiri, kreatif, dan bergotong royong. Sebagaimana ditemukan pada pelaksanaan KGTS di kota-kota lain, kegiatan ini terbukti mendorong pergeseran tingkat aktivisme peserta dari sekadar penonton (spectator) menjadi garda depan (frontliner) dan aktivis isu sosial-lingkungan di daerahnya.
Melalui KGTS 2026 di Makassar, PP17 berharap semakin banyak pelajar yang tidak hanya memahami persoalan lingkungan di sekitarnya, tetapi juga memahami hak dan kewajibannya sebagai warga, serta memiliki keberanian untuk menjadi bagian dari solusi bagi kotanya.
